March 11th, 2014

Sungai Alas Favorit Pecinta Arung Jeram

Sungai Alas merupakan salah satu sungai favorit para pecinta arung jeram di seluruh dunia, karena sungai ini memiliki arus yang kuat, berkelok-kelok dan jeram-jeram yang menantang. Selain itu, suasana hijau dan rimbunnya Taman Nasional Gunung Leuseur juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Yang menarik lagi adalah pemandangan hutan yang asri dengan aneka satwa bisa Anda nikmati dengan jelas dari sungai Alas.

Sungai Alas terletak di Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh. Tepatnya di 165 km tenggara Takengon. Untuk menuju Sungai Alas, Anda bisa menempuhnya dengan dua jalur, yakni :
- Jalur darat dari kota Medan, Sumatera Utara, yakni melalui Berastagi yang bisa ditempuh selama 7 jam. Meskipun jalur ini kurang baik kondisi jalannya, namun masih terbilang layak untuk kendaraan SUV.
- Jalur darat melalui Banda Aceh, Beureun, Takengon, yakni bisa ditempuh selama 14 jam.

Selain kedua cara tersebut, terdapat pilihan paling sederhana untuk menuju ke lokasi Sungai Alas, yakni melalui Bandara Alas Leuser dengan menggunakan pesawat berbadan kecil yang kemudian dilanjutkan perjalanan darat yang lebih dekat rutenya.

Rute arum jeram untuk pemula di Sungai Alas bisa dimulai dari Muarasitulan di Kota Kutacane hingga ke Kota Gelombang yang lokasinya berdekatan dengan Samudera Hindia. Namun khusus untuk para profesional, Anda bisa melakukan petualangan menaklukkan arus Sungai Alas dengan rute yang lebih jauh, yakni mulai dari Angusan dekat Blangkejeran hingga ke Kota Gelombang.

Bagi Anda yang hobi belanja, sungai Alas mungkin tidak cocok bagi Anda, karena disekitar sungai Alas tidak banyak penjual makanan ataupun barang-barang. Untuk memenuhi hasrat belanja Anda, silahkan menuju ke Kutacane. Jika Anda merasa belum puas berkeliling di sekitar sungai Alas, Anda bisa menginap di tenda-tenda di tepi sungai Alas sambil membakar ikan. Di lokasi ini, Anda bisa menikmati air bersih untuk mandi yang berada di dekat sungai hutan, kamar mandi bersama dan juga toilet.

Namun jika ingin mendapatkan fasilitas lengkap, Anda bisa singgah di penginapan yang ada di Hutan tadah hujan Kedah. Penginapan tersebut tidak hanya menyediakan tempat yang nyaman dan pelayanan makanan,tapi juga menyediakan akomodasi, paket perjalanan dan petualangan arung jeram. Sebelum memutuskan petualangan Anda di Sungai alas, ada baiknya Anda menyiapkan segala perlengkapan, seperti : jacket, tas ransel, kamera, sepatu, kaus kaki, topi, sleeping bag, senter, teropong, obat-obatan dan beberapa perlengkapan lainnya. Selamat menikmati petualangan Anda!!!

March 10th, 2014

Bermain Air di Pantai Iboih

Berada di ujung barat Pulau Sumatera, di Pulau Sabang, Pantai Iboih menawarkan kecantikan alam yang masih alami dengan air lautnya yang jernih maka wisatawan akan merasa terpuaskan dengan kegiatan menyelam. Perjalanan yang diawali dari Pelabuhan Ulee Lheue untuk segera menyeberang ke Pulau Weh dengan menumpang kapal cepat atau ferry yang memakan waktu 2 jam. Ongkos dapat menjadi ringan bila pergi bersama yaitu tiap orang bisa mengeluarkan biaya Rp50.000,00. Pantai Iboih terletak di Desa Iboih, Kecamatan Sukakarya, atau 23 kilometer dari Pusat Kota Sabang dan dapat ditempuh menggunakan taksi carteran selama 40 menit dari Pelabuhan Balohan. Pantai berpasir putih dengan air yang sangat jernih ini sangat cantik. Kontras dengan birunya langit dan hijaunya pepohonan di bibir pantai serta pemandangan Pulau Rubiah di seberangnya.

Setibanya di Sabang, wisatawan bisa memilih taksi sebagai transportasi menuju Iboih, Kota Sabang. Penginapan yang tersedia di sekitar pantai iboih selain murah juga menjadi tempat paling nyaman untuk bersantai. Wisatawan bisa memilih penginapan dengan harga dan fasilitas yang diinginkan. Lingkungan sekitar dan masyarakatnya juga sangat ramah, serta memberikan pelayanan yang sangat bersahabat. Sepanjang pesisir Teupin Layeu atau Iboih, terdapat beberapa tempat menginap bagi Anda, seperti: Yulia, Iboih Inn Resort Resto, Oong, Mama Mia, Fatima, 7 Bungalows, RTD, Arina, Ayub, Erick’s, dan beberapa tempat baru lainnya yang menawarkan kesederhanaan hidup harmonis dengan alam.

Pagi hari adalah saat paling nikmat untuk snorkeling. Selain karena plankton belum naik ke permukaan, suasana sejuk pagi akan memberikan kesan takjub yang lebih mendalam. Terlebih jika bisa menaiki perahu dan memutari Pulau Rubiah. Rubiah adalah pulau di seberang Pantai Iboih. Kalau nekat ya berenang saja ke pulau tersebut, dijamin akan ada sensasi yang lebih menantang. Kumpulan terumbu karang di sekitar pulau akan semakin memanjakan mata. Tak sempurna bila berlibur ke Pantai Iboih tanpa mengintip indahnya kehidupan bawah laut di pantai ini. Ikan, terumbu karang, penyu, dapat dilihat hanya beberapa meter dari bibir pantai. Wisatawan tentu tau cara mengintip surga di bawah laut yang terdapat sekitar 580 spesies ikan ini. Caranya dengan Snorkling dan diving.

Beberapa yang menarik dari Pantai Iboih dan Pulau Rubiah adalah keberadaan anak hiu. Ya, jika beruntung, Anda akan menemukan anak-anak hiu yang berenang dekat pantai. Biasanya mereka ada di kedalaman 2-3 meter. Tak perlu takut, Anda hanya perlu memastikan tak ada darah di sekitar tubuh. Di Pantai Iboih, wisatawan akan dihadapkan dengan banyak titik penyelaman. Mungkin tak cukup sehari untuk menikmati isi bawah airnya. Terutama jika ingin diving di daerah ini, mungkin butuh seminggu untuk puas bermain di Sabang.

March 7th, 2014

Mendatangi Tugu Nol Kilometer di Sabang

Tugu Nol kilometer terletak di Pulau Weh atau lebih terkenal dengan nama Sabang yang terletak di barat laut Pulau Sumatra. Pualu ini dikelilingi oleh Selat Malaka di Utara, Samudera Hindia di Selatan, Selat Malaka di Timur dan Samudera Hindia di Barat. Pulau dengan luas 156,3 km² terdiri dari beberapa pulau kecil yang terbentuk sebagai akibat dari letusan gunung yaitu Pulau Weh (121 km2), Pulau Rubiah (0,357 km2), Pulau Seulako (0,055 km2), Pulau Klah (0,186 km2), dan Pulau Rondo (0,650 km2). Pada jaman pemerintahan Hindia Belanda, dermaga Sabang telah menjadi pelabuhan penting sebagai pangkalan batubara untuk Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang kemudian dikembangkan menjadi lalu lintas perdagangan barang. Pemerintah Indonesia pada tahun 2000 menetapkan Sabang sebagai Zona Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Penetapan tersebut rupanya tak merubah pola kerja penduduk sabang yang akan berhenti berkegiatan ketika datang waktu dzuhur sehingga apabila datang ke pelabuhan maka lalu lintas barang dan jasa di waktu tersebut juga akan terhenti

Untuk pergi ke tugu Nol kilometer maka wisatawan dapat menempuh perjalanan melalui pelabuhan Sabang. Meski sabang telah memiliki bandara udara bernama Maimun Saleh, namun bandara ini hanya digunakan untuk kepentingan militer, sehingga untuk mencapai pulau Sabang atau Pulau Weh anda dapat menyeberang melalui Pelabuhan Ulee Lheue (Aceh) menuju Pelabuhan Balohan (Sabang). Bagi anda yang berada di luar Aceh, aksesnya bisa melalui pesawat udara ke Bandara Sultan Iskandar Muda (Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air, Batavia Air, Air Asia, Fire Fly). Tiba di bandara, bisa dilanjutkan dengan naik taksi ke pelabuhan Ulee Lheu Banda Aceh, ongkosnya biasanya 100 ribu dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.
1. Tarif taxi Bandara Sultan Iskandar Muda Airport – Pelabuhan Ulee Lheue: Rp. 90,000 atau bisa lebih murah dengan menumpangi becak motor dari terminal bus ke pelabuhan Ulee Lheue dengan ongkos mulai 5000 hingga 60.000 tergantung dari seberapa banyak barang bawaan anda.
2. Bila telah tiba di pelabuhan ulee Lheue maka perjalanan dapat diteruskan dengan menumpang kapal cepat dengan jarak tempuh sekitar 45 menit dan kapal/ferry/roro dengan jarak tempuh 2 jam dengan ongkos yang bervariasi antara 15000 rupiah hingga 80000 rupiah sesuai dengan kelas tarif yang dipilih penumpang.

Untuk menuju ke tugu Nol kilometer yang kira-kira jauhnya 15 km maka anda bisa menempuh perjalanan mulai dari menggunakan mobil sewaan sebesar 400.000/hari atau angkutan umum sebesar 50.000/orang. Sebelum tiba di Tugu Nol kilometer masih banyak obyek wisata yang dapat dinikmati yaitu obyek wisata Iboih yang jaraknya cuma 5 km dari kota sabang dan Obyek wisata Pulau Rubiah.

Tugu Kilo Meter Nol terletak di lintang: 050 54’ 21.42” LU, bujur: 950 13’ 00.50” BT berada dalam areal Hutan Wisata Sabang di Ujung Ba`u, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang. Berhubung lokasinya di kawasan hutan wisata tidak mengherankan jika jalanan menuju tugu nol kilometer sangat sepi dan tentu saja banyak pepohonan. Tugu ini menjulang setinggi 22,5 meter, berbentuk lingkaran berjeruji dengan cat centil berwarna putih dan orange. Sebuah prasasti marmer hitam menunjukkan posisi geografis tempat ini, di dinding bangunan juga tertempel prasasti peresmian tugu yang ditandatangani oleh Wakil Presiden saat itu, Bapak Try Sutrisno. Angka NOL berada di puncak tugu bersama dengan lambang burung Garuda yang warnanya sudah memudar. Pepohonan rimbun yang berada di sekeliling tugu cukup menyulitkan untuk melihat angka NOL tersebut, apalagi warna langit saat itu juga kelabu. Di seberang jalan tugu 0 km juga terdapat sebuah batu penanda jarak bertuliskan KM 0.

Waktu terbaik berkunjung ke Tugu Nol kilometer adalah saat matahari terbenam, dengan catatan cuaca cerah. Obyek wisata ini cukup indah, di bawah pepohonan rindang kita bisa memandangai laut lepas. Di obyek wisata inilah yang merupakan satu-satunya obyek wisata yang memberikan sertifikat bahwa anda sudah pernah datang dan menginjak tugu nol kilometer. Jika anda ingin membuat sertifikat pengunjung 0 km mintalah bantuan kepada pemandu/sopir anda, sertifikat baru bisa di ambil keesokan harinya.

March 6th, 2014

Pantai Ujoeng Pancu Primadona Para Pemancing

Ujoeng Pancu adalah nama dari salah stau pantai yang terletak di kota Banda Aceh, tepatnya berada di kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh. Akses jalan untuk menuju pantai ini sudah diberikan fasilitas yang mencukupi sehingga memungkinkan dari pengunjung untuk datang ke lokasi dengan lebih mudah.

Pantai ini menjadi salah satu pantai yang banyak dikunjungi oleh wisatawan karena memiliki daya tarik yang kuat. Daya tarik yang pertama dari pantai Ujoeng Pancu ini adalah karena keberadaan geologis pantai ini. pantai ini terletak di sebuah kawasan yang dapat dikatakan sebagai kawasan yang menakjubkan. Pantai ini terletak di kaki gunung namun juga merupakan sebuah kawasan pinggir pantai. Dengan kombinasi dari dua bentang alam inilah yang membuat keindahan dari pantai ini.

Pantai ini menjadi primadona bagi para pemancing. Lokasi yang menakjubkan, pantai yang landai, adanya beberapa bebatuan besar dan juga tidak adanya ombak yang terlalu besar menjadi sangat memungkinkannya tempat ini untuk dijadikan sebagai lokasi pemancingan.

Daya tarik yang lain dapat dinikmati dari pengunjung pantai yang tak suka akan kegiatan memancing. Di kawasan lain pantai terdapat gunung yang tak terlelu tinggi. Dengan jalan yang sudah dibuat sedemikian rupa yaitu berupa jalan tangga yang terbuat dari seman akan memungkinkan untuk melakukan pendakian.

Di atas gunung adalah berupa makan dari seorang Ulama Aceh yang bernama Syeikh Hamzah Fansuri. Keramaian pengunjung di lokasi ini dapat dilihat pada hari Jumat di mana kebanyakan pengunjung adalah untuk berziarah ke malam ulama ini.

Selain sebagai objek wisata, kawasan dari pantai ini juga digunakan sebagai Kawasan Konservasi Laur Daerah (KKLD) dari kota Aceh Besar. Di sana dilakukan upaya untuk memelihara Mangrove dan juga Terumbu Karang.

Sebelum bencana tsunami meluluhlantakan Aceh dan juga termasuk kawasan pantai ini, lokasinya sudah menjadi sebuah kawasan yang sangat hijau dan dipenuhi dengan hutan mangrove yang juga luas. Saat ini setelah tsunami, semua pihak berupaya untuk mewujudkan kembali cita-cita menjadikan pantai Ujoeng Pancu ini sebagai hutan mangrove dan juga untuk menyelamatkan terumbu karang.

footer